Home
  | 0 - 2 |  

Bayang-Bayang

November 20th, 2008 (01:26 am)

Bayang-Bayang

 

Kau kau kau kau di mana-mana kau, melekat dalam gerak menyemayam dalam diam. Semilir angin pun berembus dari napasmu. Binar sinar, semburat cahaya; alir air dan ricik suaranya adalah rona rupamu. Lalu, apa yang tersisa untukku? Tak ada sebagaimana segenap rupa semesta raya hanyalah bayang-bayang jamak dari wujud ketunggalanmu.*

 

Untung saja kau baik hati. Kau ajari aku nama-nama, esensi semesta. Kau beri aku segenap sarana dan wahana. Kau ciprati aku dengan kreativitas dan dayamu. Lalu kita pun menjadi seperti ungkapan Iqbal:

 

Kau menciptakan malam dan aku yang membuat pelita

Kau menciptakan tanah liat dan aku yang membuat piala

Kau menciptakan sahara, gunung-gunung dan belantara

Aku yang membuat kebun anggur, taman-taman dan padang tanaman

Akulah yang telah mengubah batu menjadi cermin

Akulah yang telah mengubah racun menjadi obat penawar**

  

(jkt-sindo, 04.11.08, *terinspirasi dimitri; **mengutip puisi Muhammad Iqbal, alih bahasa oleh Ali Audah)

Advertisement

Maklumat Awamologi

November 13th, 2008 (11:11 pm)

 

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. Pada hari ini, Sabtu, 22 Desember 2007 dini hari, kurang lebih pukul 01.45 WIB, saya proklamasikan kelahiran awamologi.

    Demikianlah, pada hari itu, saya merasa menemukan cara pandang untuk menyikapi hidup ini. Cara yang sebetulnya telah lama melekat pada diri ini dan secara fitrah serta oleh agama yang saya anut, Islam, disediakan pijakannya.
    Dari segi bahasa, awamologi adalah gabungan dua kata, “awam” dan “logi”. Kata “awam” berarti “bersifat umum, biasa, tidak istimewa”.  Kata ini juga bisa berarti “orang kebanyakan, orang biasa (bukan ahli, bukan ‘yang hebat-hebat’)”. Hal ini bisa dilihat pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kemudian, kata “logi” berarti “ilmu”. Karena itulah istilah awamologi berarti “ilmu” menurut sudut pandang orang awam atau berdasarkan nilai-nilai keawaman dan ditujukan untuk orang awam pula atau yang bersetuju dengan nilai-nilai keawaman. Itu berarti ada prinsip-prinsip awami atau nilai-nilai keawaman yang dijadikan pegangan untuk memandang, mendekati, dan menyikapi apa saja dalam hidup ini. Jadi, bila dalam hidup ini kita ingin sukses, hal itu pun mesti dicapai dengan pendekatan awami alias memakai awamologi.
    Sebagaimana telah disebutkan, Islam dan fitrah kita sebagai manusia memang menyediakan pijakan bagi awamologi. Artinya, prinsip-prinsip atau nilai-nilai keawaman mencakup semua nilai kebaikan yang disediakan agama, yang sesuai dengan fitrah kita. Bukankah kita ini memang hamba awam belaka di hadapan Sang Pencipta? 
  
Sebagai istilah, awamologi memang diilhami oleh kelirumologi-nya Jaya Suprana. Namun khusus penggabungan kedua kata itu menjadi produk “ilmu” awamologi, ini adalah murni gagasan saya. Jadi, sayalah pemegang hak paten atas produk awamologi ini.
    Di atas semua itu, pemicu terbesar atau muasal dari terciptanya awamologi ini tentu saja adalah Allah Subhanahu Wa-Taala yang telah mengkreasi keberadaan saya di dunia ini dengan bekal ciri-ciri kedirian yang awami.
    Mudah-mudahan, kita semua bisa berbagi untuk saling memberdayakan dalam kerangka keawaman ini.

  | 0 - 2 |