Bayang-Bayang
Bayang-Bayang
Kau kau kau kau di mana-mana kau, melekat dalam gerak menyemayam dalam diam. Semilir angin pun berembus dari napasmu. Binar sinar, semburat cahaya; alir air dan ricik suaranya adalah rona rupamu. Lalu, apa yang tersisa untukku? Tak ada sebagaimana segenap rupa semesta raya hanyalah bayang-bayang jamak dari wujud ketunggalanmu.*
Untung saja kau baik hati. Kau ajari aku nama-nama, esensi semesta. Kau beri aku segenap sarana dan wahana. Kau ciprati aku dengan kreativitas dan dayamu. Lalu kita pun menjadi seperti ungkapan Iqbal:
Kau menciptakan malam dan aku yang membuat pelita
Kau menciptakan tanah liat dan aku yang membuat piala
Kau menciptakan sahara, gunung-gunung dan belantara
Aku yang membuat kebun anggur, taman-taman dan padang tanaman
Akulah yang telah mengubah batu menjadi cermin
Akulah yang telah mengubah racun menjadi obat penawar**
(jkt-sindo, 04.11.08, *terinspirasi dimitri; **mengutip puisi Muhammad Iqbal, alih bahasa oleh Ali Audah)





